Ucapan Selamat Hari Raya Saraswati Dan Pagerwesi Dari Kpt Denpasar

  • Senin, 06 April 2026
  • Admin
  • Dilihat 33 kali

“Ilmu sebagai Cahaya, Integritas sebagai Benteng”

Assalamu’alaikum wr. wb. 
Salam Sehat Jiwa Raga.
Om Swastyastu.

Sependek pengetahuan yang saya miliki, mencoba memahami dan belajar bagaimana insan peradilan memaknai perayaan Hari Saraswati dan Hari Pagerwesi yang bukan sekadar rangkaian ritual keagamaan, tetapi sebuah perjalanan makna yang utuh—dari pencerahan menuju keteguhan. Dari ilmu yang turun sebagai cahaya, menuju ilmu yang menjelma sebagai benteng kehidupan.

Hari Saraswati mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan adalah anugerah Tuhan, cahaya (nur) yang menuntun manusia keluar dari kegelapan menuju kebenaran. Dalam konteks peradilan, ilmu bukan hanya sekadar hafalan norma, tetapi kemampuan memahami keadilan secara mendalam, kontekstual, dan berkeadaban.

Seorang hakim, ataupun aparatur peradilan pada hakikatnya adalah penjaga cahaya itu. Ia dituntut tidak hanya menguasai hukum, tetapi juga memiliki kebijaksanaan dalam menerapkannya. Karena hukum tanpa kebijaksanaan akan menjadi kaku, sementara kebijaksanaan tanpa dasar hukum akan kehilangan arah.

Namun perjalanan tidak berhenti pada Saraswati.

Pagerwesi hadir sebagai pengingat bahwa ilmu yang telah diperoleh harus dijaga, diperkuat, dan dijadikan benteng. Pager adalah pagar, wesi adalah besi—sebuah simbol bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada pengetahuan, tetapi pada kemampuan menjaga diri dari penyimpangan.

Bagi peradilan, Pagerwesi adalah panggilan untuk membangun ketahanan moral dan integritas. Ilmu hukum yang tinggi tidak akan bermakna tanpa keteguhan iman, tanpa keberanian menjaga nilai, dan tanpa disiplin untuk menolak segala bentuk godaan.

Di sinilah relevansi keduanya bertemu:
•Saraswati membentuk kapasitas intelektual hakim
•Pagerwesi memperkuat kapasitas moral dan spiritual hakim

Peradilan yang kuat tidak hanya dibangun oleh kecerdasan hukum, tetapi oleh karakter yang kokoh. Hakim bukan sekadar penafsir undang-undang atau corong undang-undang (la bouche de la loi) melainkan penjaga keadilan yang hidup di tengah masyarakat yang terus berubah.

Maka, peningkatan kapasitas peradilan di Bali tidak cukup hanya dengan pelatihan teknis atau modernisasi sistem. Ia harus berakar pada keseimbangan yang lebih dalam:

  • Ilmu yang terus diperbarui (continuous learning)
  • Integritas yang terus dijaga (ethical resilience)
  • Kerendahan hati untuk selalu belajar (judicial humility)

Dalam semangat Saraswati, hakim belajar tanpa henti.
Dalam semangat Pagerwesi, hakim menjaga dirinya tanpa kompromi.

Karena sesungguhnya, tantangan terbesar peradilan bukanlah kekurangan aturan, melainkan ujian terhadap karakter.

Akhirnya, peradilan yang agung, peradilan yang bermartabat & berintegritas tanpa batas lahir dari hakim yang menjadikan ilmu sebagai cahaya hidupnya, dan menjadikan integritas sebagai benteng jiwanya.

Di situlah keadilan tidak hanya ditegakkan, tetapi juga dirasakan.

Selamat hari Saraswati dan hari Pagerwesi.

Lihat Berita Lainnya